Saturday, May 21, 2016

tokoh musik indonesia



RUMAH BELAJAR – Saridjah Niung atau Biasa dikenal dengan Ibu Sud lahir di Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Maret 1908 – meninggal tahun 1993. Ibu Sud adlh seorang pemusik, guru musik, pencipta lagu anak-anak, penyiar radio, dramawan dan seniman batik Indonesia.
PART 6

Ibu Soed dikenal sebagai tokoh musik tiga zaman (Belanda, Jepang, Indonesia). Kariernya di bidang musik bahkan sudah dimulai jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Suaranya pertama kali disiarkan dari radio NIROM Jakarta periode 1927-1928.
Setelah Tamat pendidikan diHKS Bandung, Ibu Soed kemudian menjadi guru musik di HIS Petojo, HIS Jalan Kartini, & HIS Arjuna. Selain mencipta lagu Ibu Soed juga pernah menulis naskah sandiwara dan mementaskannya. Operette Balet Kanak-kanak Sumi di Gedung Kesenian Jakarta pada tahun 1955 bersama Nani Loebis Gondosapoetro sebagai penata tari dan RAJ Soedjasmin sebagai penata musiknya.
Ibu Soed juga membentuk grup Tonil Amatir yang dipentaskan utk menggalang dana untuk acara penginapan mahasiswaClub Indonesia. Tdk hny sebagai guru & aktivis organisasi pemuda, tetapi jg berperan dlm berbagai siaran radio sbg pengasuh siaran anak-anak (1927-1962).
Krn reputasinya yg aktif dlm pergerakan Nasional, pada tahun 1945 Ibu Soed pernah menjadi sasaran aksi penggeledahan oleh pasukan Belanda. Rumah Ibu Soed di Jalan Maluku No. 36 Jakarta saat itu sudah dikepung oleh pasukan Belanda. Namun tetangga Ibu Soed yg seorang Belanda meyakinkan mereka bahwa mereka salah sasaran, karena profesi Ibu Soed hanyalah pencipta lagu dan suaminya hanyalah pedagang.
Ibu Soed dikenal piawai dlm seni batik. Atas karya & pengabdiannya, Ia menerima penghargaan Satya Lencana Kebudayaan dari pemerintah & MURI.Sebagai pemusik yang mahir memainkan biola, Ibu Soed turut mengiringi lagu Indonesia Raya bersama W.R. Supratman
Lagu2 Ibu Soed, menurut Pak Kasur, salah seorang rekannya yg jg tokoh pencipta lagu anak2, selalu mempunyai semangat patriotisme yg tinggi. Contoh lagu anat2 ciptaan Ibu Sud : Hai Becak, Burung Kutilang, dan Kupu-kupu. Dan Lagu nasional Berkibarlah Benderaku dan Tanah Airku. (sumber: Indonesiaberdendang.com)

tokoh musik indonesia

PART 5


Biografi Anang Hermansyah Seorang Seniman Musik Indonesia-Anang Hermansyah dilahirkan pada tanggal 18 Maret 1969 di kota Jember Jawa Timur. Anang Hermansyah saat ini adalah salah satu anggota DPR RI yang merupakan perwakilan dari fraksi PAN. Anang Hermansyah telah duduk di posisi tersebut dari tanggal 2 Oktober 2014. Namun, sebelum terjun di dunia politik, Anang Hermansyah lebih dikenal sebagai musisi, produser music dan bahkan penyanyi. Bahkan Anang Hermansyah sempat menjadi juri di sebuah ajang pencarian bakat Indonesian Idol dari tahun 2007.
Anang Hermansyah juga lebih dikenal sebagai mantan suami dari Diva Indonesia Krisdayanti. Karena Anang Hermansyah lah yang telah mengorbitkan Krisdayanti hingga terkenal sampai saat ini. namun, meskipun pernikahan pasangan ini telah lama berlangsung yaitu sejak tanggal 22 Agustus 1996 hingga pasangan Anang Hermansyah dan Krisdayanti ini telah dikaruniai dua orang anak perempuan dan lelaki yaitu Titania Aurelie Hermansyah dan yang lelaki bernama Azriel Akbar Hermansyah.
Hingga akhirnya banyak sekali gossip yang mengatakan bahwa Krisdayanti telah berselingkuh dan akhirnya setelah tiga belas tahun pernikahan mereka, akhirnya talak dijatuhkan pada Agustus 2009 dan pasangan ini secara resmi bercerai sesuai hokum yang berlaku di bulan November 2009. Kedua anak Anang Hermansyah dan Krisdayanti memutuskan untuk ikut dengan ayahnya. Kabar bahagia akhirnya datang dan Anang Hermansyah berhasil menikahi Ashanty di 112 Mei 2012.
Anang Hermansyah mengenyam pendidikan di sekolah menengah atas di kota Jember kemudian Anang Hermansyah membentuk grup band. Anang Hermansyah mulai menyukai music sejak saat itu. Ketika Anang Hermansyah melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di Bandung Universitas Islam Bandung, Anang Hermansyah masuk ke dalam sebuah sanggar yagn dikelola oleh Doel Sumbang.
Kemudian di tahun 1989, Anang Hermansyah pindah ke Jakarta dan bertemu dengan Pay Siburian yang merupakan gitaris BIP (ketika itu merupakan salah satu anggota Slank). Sejak Anang Hermansyah berkenalan dengan Pay Siburian, Anang Hermansyah mulai mengenal Gag Potlot dan akhirnya masuk ke dalam grup band Kidnap. Dengan grup ini, Anang Hermansyah akhirnya dapat meluncurkan album Katrina di tahun 1993.
Namun akhirnya, Anang Hermansyah bersolo karir dan berhasil merilis beberapa album yaitu Lepas, Melayang, Biarlah dan Tania. Kemudian dengan mantan istri Krisdayanti Anang Hermansyah merilis album Kasih, Buah hati, makin Aku Cinta dan Cinta. Kemudian Anang Hermansyah lebih sibuk mengurus segala kepentingan di belakang panggung untuk Krisdayanti.
Dan akhirnya setelah berpisah, Anang Hermansyah mengeluarkan album solonya Separuh Jiwaku Pergi. Tidak hanya itu, Anang Hermansyah juga mengeluarkan single lagunya berjudul Jangan Memilih Aku dengan seorang penyanyi wanita bernama Syahrini. Dengan lagu ini, nama Anang Hermansyah kembali menjadi lebih bersinar dan teman duetnya pun menjadi sangat terkenal hingga saat ini. setelah sukses dengan lagu tersebut, pasangan duet ini kembali mengeluarkan single Cinta Terakhir.
Namun, di tahun 2011 Anang Hermansyah mencari teman duet lainnya yaitu Ashanty. Dengan pasangan duet barunya ini Anang Hermansyah berhasil merilis album dengan judul Jodohku dan berisi dua lagu yang cukup popular berjudul Jodohku dan yang kedua berjudul Menentukan Hati.
Telah diketahui sebelumnya bahwa anak merupakan sosok dibalik kesuksesan Krisdayanti, selain menjadi produser Anang Hermansyah juga menjadi penulis lagu. Anang Hermansyah memiliki sebuah studio bernama studio hijau. Anang Hermansyah membuat sebuah konser milik 3 Diva yang tersiri dari Titi DJ, Ruth Sahanaya dan Krisdayanti yang merupakan mantan istrinya dan akhirnya konser ini sangat sukses.
Anang Hermansyah juga sempat menjadi seorang produser untuk film Susahnya jadi perawan yang dimainkan oleh Nova eliza, Al Fathir Muchtar, Restu sinaga, Tio pakusadewo, alm Olga syahputra dan juga Julia Perez. Anang Hermansyah juga menbuat portal music Independent music portal yang menjual karya musisi senior atau baru bersama teman-temannya Abdee Negara, Triawan dan Indra Lesmana

tokoh musik indonesia

PART 4

Biografi Ahmad Dhani- Siapa sih yang tidak kenal sosok yang satu ini, Ahmad Dhani yang dikenal sebagai pentolan grub Dewa 19. Dia adalah musisi yang cerdas dan percaya diri. Kehidupan pribadinya sama menariknya dengan prestasi-prestasi yang diraihnya sehingga tidak heran jika Ahmad Dhani sekeluarga menjadi orang-orang yang paling dicari oleh media dan masyarakat. 

Kehidupan Awal
Bernama lengkap Ahmad Dhani Prasetyo, dia lahir di Surabaya, Jawa Timur, 26 Mei 1972. Ahmad Dhani adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pernikahan antara seorang ayah Sunda Eddy Abdul Manaf, seorang diplomat, dengan Joyce Theresia Pamela Kohler, seorang Indonesia keturunan Yahudi Ashkenazi. Kakeknya, Jan Pieter Friederich Kohler adalah keturunan Yahudi Ashkenazi lahir di Hindia Belanda pada tahun 1883. Kakak tiri Dhani, Dadang S. Manaf adalah musisi Indonesia dan merupakan pengaruh besar pada minat musik Dhani sejak masa kecilnya. Ayah Dhani membelikannya keyboard ketika ia masih muda dan membayar untuk les musik, sangat membujuk dia dan berharap bahwa Dhani akan unggul dalam hal musik klasik. Dia sangat terinfluence oleh band rock Inggris Queen.

PERNIKAHAN
Kehidupan rumah tangga Dhani  menarik perhatian banyak orang. Menikah dengan Maia Estianty pada awal 1994, mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Ahmad Al Gazali, El Jalaluddin Rumi, dan Ahmad Abdul Qodir Jaelani yang kesemuanya diambil dengan dasar kekaguman Dhani terhadap para tokoh filsuf tersebut.


 Namun biduk rumah tangga Dhani-Maia mulai kisruh pada akhir 2006. Selama konflik rumahtangganya dengan Maia Estiaty terjadi, Dhani mengancam istrinya agar keluar dari Ratu dan memperbaiki rumahtangganya. Dhani menuduh Maia terlalu sibuk dan menelantarkan anak-anak mereka.

Perseteruan panjang di media dan pengadilan agama berakhir dengan perceraian keduanya pada 23 September 2008. Hak asuh ketiga anak mereka, Al, El, dan Dul jatuh ke tangan Maia. Meski hak asuh anak jatuh ke tangan Maia, namun ketiga putra hasil pernikahannya dengan Maia masih tinggal bersama Dhani. Dhani mengaku akan mengajukan banding untuk merebut hak asuh anak mereka. Kini, walau hak asuh anak mereka jatuh ke tangan Maia, namun, Al, El, dan Dul masih berada di tangan Dhani. 

Dhani tak perlu menunggu lama untuk mendapat tambatan baru setelah menyandang status duda. Pasca bercerai, Dhani mengatakan telah menikah lagi. Tak tanggung-tanggung, Dhani mengaku menikahi empat orang istri sekaligus. Ia memang artis yang mendukung secara tegas dan berniat menerapkan poligami. Keputusan itu ia ambil setelah mendapat restu dari ketiga anak-anaknya.
Dalam berbagai kesempatan, Dhani sering sesumbar bahwa dirinya telah memiliki empat orang istri setelah berpisah dari Maia. Siapa sajakah wanita yang Dhani nikahi? Menurut kabar, Dhani menikahi seorang wanita bernama Yuni yang masih berstatus istri orang.  Kontroversi lainnya adalah Dhani mengaku telah menikah siri dengan Mulan Jameela, yang akhirnya terkuak kebenarannya pada tahun 2013setelah munculnya gadis kecil bernama Safeea yang merupakan hasil pernikahan mereka.

Perjalanan Karir
Kepiawaianya bermain musik dimulai sejak SMP. Dhani bersama tiga sahabatnya, Andra Junaidi, Erwin Prasetya, dan Wawan Juniarso membentuk grup band Down Beat di SMPN 6 Surabaya pada 1986 silam. Band ini merupakan cikal bakal grup Dewa 19.

Setelah sempat bergonta-ganti personel dan lulus sekolah menengah atas, selain itu juga karena tidak ada studio yang memadai di Surabaya, pada tahun 1991 Ahmad Dhani hijrah ke Jakarta untuk mencari perusahaan rekaman yang akan melabeli Dewa 19. Dengan modal seadanya, Dhani menginjak rimba ibukota, gentayangan dari satu perusahaan rekaman ke perusahaan rekaman lain menggunakan bus kotaDewa 19  hijrah ke Jakarta, tepat  tahun 1992. Setelah sempat ditolak sejumlah label, akhirnya dhani dilirik oleh Jan Djuhana dari Team Records.

Dewa meluncurkan album perdana bertitel Dewa 19. Single dalam album Dewa 19 (1992) sukses dan membuahkan beberapa hits seperti 'Kangen' dan 'Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi'.

Album Dewa 19 tercatat sebagai albumTERLARIS pada 1993 dan diganjar predikat  sebagai pendatang baru terbaik. Kesuksesan Dewa 19 berlanjut pada album-album berikutnya, yaitu Format Masa Depan (1994), Terbaik Terbaik (1995), Pandawa Lima (1997), The Best Of Dewa 19 (1999), Bintang Lima (2000), Cintailah Cinta (2002), Atas Nama Cinta I & II (2004), Laskar Cinta (2004), Republik Cinta (2006), dan Kerajaan Cinta (2007).  Selama perjalanan itu, personil Dewa 19 berganti beberapa kali, namun grup ini tetap eksis dalam seni musik Indonesia.




Selain di Dewa 19, Dhani juga membentuk beberapa band lain. Pada 1997, Dhani membentuk Ahmad Band, yang mempopulerkan 'Kuldesak' dan 'Aku Cinta Kau Dan Dia'. Dhani membentuk band The Rock setelah bertemu dengan tiga anggota band Hospital The Musical, yaitu Clancy Alexander Tucker, Zachary Haidee-Keene, Michael Bennett di Studio 301, Sydney  Australia.  Agustus 2007, album pertama The Rock bertajuk Master Mister Ahmad Dhani I mencetak single 'Munajat Cinta'.

Selain berada di balik kesuksesan beberapa band, Dhani sukses memproduseri Reza Artamevia sebagai penyanyi pada 1997. Sejak saat itu, Dhani mulai memproduseri artis lain, dan melahirkan bakat-bakat baru dalam dunia musik.

Banyak talenta baru di dunia musik Indonesia lahir dari didikan dan tangan dingin Dhani. Setelah The Virgin, Dhani kembali mengorbitkan band baru The Moon dan band dengan personil tiga anak lelakinya, Lucky Laki serta beberapa band baru lainnya. Dalam sebuah album kompilasi bertajuk New Beginning 09 yang diluncurkan awal Juni 2009, terdapat sembilan band yang tergolong baru yaitu The Virgin, The Law, Lucky Laki, The Moon, Zewex and  The Cuncuzna, Airplay, Rafflesia, Kamusuka, dan Tiramizu

sumber :http://www.blog-artikel.com/2014/07/biografi-ahmad-dhani-artis-musisi.html

tokoh musik indonesia

PART 3 


“Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu, entah sampai kapan tak ada yang bakal dapat menghitung. Hanya atas kasihnya, hanya atas kehendaknya, kita masih bertemu matahari, kepada rumpun ilalang, kepada bintang gemintang.” Nukilan ini dicomot dari tembang lagu yang berjudul Masih Ada Waktu yang dilantunkan Ebiet G Ade. Lagu itu yang menyasar kepada permenungan betapa Tuhan masih mau memberikan kita kesempatan melihat buana yang indah ini.
Selain kerap kali menjadi pengiring berita-berita seputar bencana, alunan nada dan lirik-lirik lagunya, mampu menggerakkan orang untuk membantu, bersimpati atau setidaknya ikut mendoakan mereka yang terkena bencana. “Kan itu bagus. Jadi, mudah-mudahan itu ibadah juga,” ujar Ebiet.
Semangatnya tak pernah pudar dalam menciptakan lagu-lagu menyentuh hati dan mengharukan. Meski identik dengan bencana dan cerita tentang kaum tersisih, lagunya tetap menyejarah dan seakan selalu sesuai dengan apa yang dialami oleh bangsa kita.
Terlahir dengan nama Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far di Wonodadi, Banjarnegara, Jawa Tengah, 21 April 1954. Ebiet merupakan anak bungsu dari enam bersaudara, anak dari pasangan Aboe Dja’far, seorang PNS, dan Saodah, seorang pedagang kain.
Pada tanggal 4 Februari 1982 Ebiet menikah dengan Koespudji Rahayu Sugianto (atau lebih dikenal sebagai Yayuk Sugianto, kakak penyanyi Iis Sugianto). Pasangan ini dikaruniai empat anak, tiga laki-laki dan satu perempuan: Abietyasakti “Abie” Ksatria Kinasih (lahir 8 Desember 1982), Aderaprabu “Dera” Lantip Trengginas (lahir 6 Januari 1986), Byatriasa “Yayas” Pakarti Linuwih (lahir 6 April 1987), dan Segara “Dega” Banyu Bening (lahir 11 Desember 1989).
Keluarga Ebiet G. Ade tinggal di kawasan Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Anak sulung Ebiet, Abie juga memiliki bakat musik, dan sering mewakili Ebiet dalam mengecek sound system menjelang ayahnya manggung. Selain bermain musik, Ebiet juga terkadang bermain golf, namun sejak terjadinya bencana tsunami 2004, hobi main golfnya tersebut pun hanyut entah kemana.
Ebiet G. Ade adalah seorang penyanyi dan penulis lagu. Ebiet dikenal dengan lagu-lagunya yang bertemakan alam dan duka derita kelompok tersisih. Lewat lagu-lagunya yang ber-genre balada, country dan jazz pada awal kariernya, dia ‘memotret’ suasana kehidupan Indonesia di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Tema lagunya beragam, tidak hanya tentang cinta, tetap ada juga lagu-lagu bertemakan alam, sosial-politik, bencana, religius, keluarga, dan lain-lain.
Sentuhan musiknya sempat mendorong pembaruan pada dunia musik pop Indonesia. Semua lagu ditulisnya sendiri, ia tidak pernah menyanyikan lagu yang diciptakan orang lain, kecuali lagu Mengarungi Keberkahan Tuhan yang ditulis bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Dulu dia memendam banyak cita-cita, seperti insinyur, dokter, pelukis. Semuanya melenceng, Ebiet malah jadi penyanyi kendati dia lebih suka disebut penyair karena latar belakangnya di dunia seni yang berawal dari kepenyairan.
Setelah lulus SD, Ebiet masuk PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Banjarnegara. Sayangnya dia tidak betah sehingga pindah ke Yogyakarta. Sekolah di SMP Muhammadiyah 3 dan melanjutkan ke SMA Muhammadiyah I. Di sana dia aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia). Namun, dia tidak dapat melanjutkan kuliah ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada karena ketiadaan biaya. Dia lebih memilih bergabung dengan grup vokal ketika ayahnya yang pensiunan memberinya opsi: Ebiet masuk FE UGM atau kakaknya yang baru ujian lulus jadi sarjana di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Nama Ebiet didapatnya dari pengalamannya kursus bahasa Inggris semasa SMA. Gurunya orang asing, biasa memanggilnya Ebiet, mungkin karena mereka mengucapkan A menjadi E. Terinspirasi dari tulisan Ebiet di bagian punggung kaos merahnya, lama-lama dia lebih sering dipanggil Ebiet oleh teman-temannya. Nama ayahnya digunakan sebagai nama belakang, disingkat AD, kemudian ditulis Ade, sesuai bunyi penyebutannya, Ebiet G. Ade. Kalau dipanjangkan, ditulis sebagai Ebiet Ghoffar Aboe Dja’far.
Sering keluyuran tidak keruan, dulu Ebiet akrab dengan lingkungan seniman muda Yogyakarta pada tahun 1971. Tampaknya, lingkungan inilah yang membentuk persiapan Ebiet untuk mengorbit. Motivasi terbesar yang membangkitkan kreativitas penciptaan karya-karyanya adalah ketika bersahabat dengan Emha Ainun Nadjib (penyair), Eko Tunas (cerpenis), dan E.H. Kartanegara (penulis). Malioboro menjadi semacam rumah bagi Ebiet ketika kiprah kepenyairannya diolah, karena pada masa itu banyak seniman yang berkumpul di sana.
Meski bisa membuat puisi, dia mengaku tidak bisa apabila diminta sekedar mendeklamasikan puisi. Dari ketidakmampuannya membaca puisi secara langsung itu, Ebiet mencari cara agar tetap bisa membaca puisi dengan cara yang lain, tanpa harus berdeklamasi. Caranya, dengan menggunakan musik. Musikalisasi puisi, begitu istilah yang digunakan dalam lingkungan kepenyairan, seperti yang banyak dilakukannya pada puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Beberapa puisi Emha bahkan sering dilantunkan Ebiet dengan petikan gitarnya.
Walaupun begitu, ketika masuk dapur rekaman, tidak sebiji pun syair Emha yang ikut dinyanyikannya. Hal itu terjadi karena ia pernah diledek teman-temannya agar membuat lagu dari puisinya sendiri. Pacuan semangat dari teman-temannya ini melecut Ebiet untuk melagukan puisi-puisinya.
Kepak Sayap Sang Maestro
Ebiet pertama kali belajar gitar dari kakaknya, Ahmad Mukhodam, lalu belajar gitar di Yogyakarta dengan Kusbini. Semula dia hanya menyanyi dengan menggelar pentas seni di Senisono, Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta dan juga di Jawa Tengah, memusikalisasikan puisi-puisi karya Emily Dickinson, Nobody, dan mendapat tanggapan positif dari pemirsanya.
Walau begitu dia masih menganggap kegiataannya ini sebagai hobi belaka. Namun atas dorongan para sahabat dekatnya dari PSK (Persada Studi Klub yang didirikan oleh Umbu Landu Paranggi) dan juga temannya satu kos, akhirnya Ebiet bersedia juga maju ke dunia belantika musik Nusantara. Setelah berkali-kali ditolak di berbagai perusahaan rekam, akhirnya dia diterima di Jackson Record pada 1979.
Jika semula Ebiet enggan meninggalkan pondokannya yang tidak jauh dari pondok keraton, maka fakta telah menunjuk jalan lurus baginya ke Jakarta. Dia melalui rekaman demi rekaman dengan sukses. Sempat juga dia melakukan rekaman di Filipina untuk mencapai hasil yang lebih baik, yakni album Camellia III. Tetapi, dia menolak merekam lagu-lagunya dalam bahasa Jepang, ketika dia mendapat kesempatan tampil di depan publik di sana. Pernah juga dia melakukan rekaman di Capitol Records, Amerika Serikat, untuk album ke-8-nya Zaman. Dia menyertakan Addie M.S. dan Dodo Zakaria sebagai rekan yang membantu musiknya.
Lagu-lagunya menjadi trend baru dalam khasanah musik pop Indonesia. Tak heran, Ebiet sempat merajai dunia musik pop Indonesia di kisaran tahun 1979-1983. Sekitar 7 tahun Ebiet mengerjakan rekaman di Jackson Record. Pada tahun 1986, perusahaan rekam yang melambungkan namanya itu tutup dan Ebiet terpaksa keluar. Dia sempat mendirikan perusahaan rekam sendiri EGA Records, yang memproduksi 3 album, Menjaring Matahari, Sketsa Rembulan Emas, dan Seraut Wajah.
Pada 1990, Ebiet yang “gelisah” dengan Indonesia, akhirnya memilih “bertapa” dari hingar bingar industri musik dan memilih berdiri di pinggiran saja. Baru pada tahun 1995, dia mengeluarkan album Kupu-Kupu Kertas (didukung oleh Ian Antono, Billy J. Budiardjo (alm), Purwacaraka, dan Erwin Gutawa) dan Cinta Sebening Embun (didukung oleh Adi Adrian dari KLa Project). Pada tahun 1996, dia mengeluarkan album Aku Ingin Pulang (didukung oleh Purwacaraka dan Embong Rahardjo). Dua tahun berikutnya, dia mengeluarkan album Gamelan yang memuat lima lagu lama yang diaransemen ulang dengan musik gamelan oleh Rizal Mantovani. Pada 2000, Ebiet mengeluarkan album Balada Sinetron Cinta dan tahun 2001, dia mengeluarkan album Bahasa Langit, yang didukung oleh Andi Rianto, Erwin Gutawa dan Tohpati. Setelah album itu, Ebiet mulai lagi menyepi selama 5 tahun ke depan.
Ebiet adalah salah satu penyanyi yang mendukung album Kita Untuk Mereka, sebuah album yang dikeluarkan berkaitan dengan terjadinya tsunami 2004, bersama dengan 57 musisi lainnya. Dia memang seorang penyanyi spesialis tragedi, terbukti lagu-lagunya sering menjadi tema bencana.
Pada tahun 2007, dia mengeluarkan album baru berjudul In Love: 25th Anniversary (didukung oleh Anto Hoed), setelah 5 tahun absen rekaman. Album itu sendiri adalah peringatan buat ulang tahun pernikahan ke-25-nya, bersama pula 13 lagu lain yang masih dalam aransemen lama.
Kemunculan kembali Ebiet pada 28 September 2008 dalam acara Zona 80 di Metro TV cukup menjadi obat bagi para penggemarnya. Dengan dihadiri para sahabat di antaranya Eko Tunas, Ebiet G Ade membawakan lagu lama yang pernah popular pada dekade 80-an.
Di usianya tak muda lagi Ebiet masih tetap berkarya, meski waktunya lebih banyak dihabiskan untuk ‘bertapa’, menyepi dari hiruk-pikuk kehidupan ibukota, namun tawaran untuk tampil dalam sebuah acara pun seperti enggan berhenti. Ketulusan dan kejujuran dalam mencipta dan membawakan lagu sepertinya membuat Ebiet kerap kali dinanti dan dielu-elukan oleh para penggemarnya yang bisa dikatakan dari semua kalangan. Ya, ketulusan dan kejujuran memang barang langka yang kerap dengan mudah kita lantunkan namun amat sulit kita praktikan. Bersyukurlah, Ada seorang Ebiet yang mampu menuangkannya dalam mangkuk realitas sosial kita.

tokoh musik indonesia

PART 2


ismail marzuki, biografi, profil, musisiBiografi Ismail Marzuki. Ia lahir di Kwitang, Senen, Batavia, 11 Mei 1914, Ismail Marzuki yang lebih dikenal dengan panggilan Maing ini merupakan salah satu maestro musik legendaris di indonesia, memang memiliki bakat seni yang sulit dicari bandingannya. Sosoknya pun mengagumkan. Ia terkenal sebagai pemuda yang berkepribadian luhur dan tergolong anak pintar. Ismail sejak muda senang tampil necis. Bajunya disetrika licin, sepatunya mengkilat dan ia senang berdasi. Darah seni Ismail mengalir dari ayahnya, Marzuki, yang saat itu seorang pegawai di perusahaan Ford Reparatieer TIO. Pak Marzuki dikenal gemar memainkan kecapi dan piawai melagukan syair-syair yang bernapaskan Islam. 
Jadi tidak aneh kalau kemudian Ismail sejak kecil sudah tertarik dengan lagu-lagu.

Orang tua Ismail Marzuki termasuk golongan masyarakat Betawa intelek yang berpikiran maju. Ismail Marzuki yang dipanggil dengan nama Ma'ing, sejak bocah sudah menunjukkan minat yang besar terhadap seni musik. Ayahnya berpenghasilan cukup sehingga sanggup membeli piringan hitam dan gramafon yang populer disebut "mesin ngomong" oleh masyarakat Betawi tempo dulu.

Ma'ing disekolahkan ayahnya ke sebuah sekolah Kristen HIS Idenburg, Menteng. Nama panggilannya di sekolah adalah Benyamin. Tapi kemudian ayahnya merasa khawatir kalau nantinya bersifat kebelanda-belandaan, Ma'ing lalu dipindahkan ke Madrasah Unwanul-Falah di Kwitang. Beranjak dewasa, dia dibelikan ayahnya alat musik sederhana. Bahkan tiap naik kelas Ma'ing diberi hadiah harmonika, mandolin, dan gitar. Setelah lulus, Ma'ing masuk sekolah MULO dan membentuk grup musik sendiri. Di situ dia memainkan alat musik banyo dan gemar memainkan lagu-lagu gaya Dixieland serta lagu-lagu Barat yang digandrungi pada masa itu.

Setelah tamat MULO, Ma'ing bekerja di Socony Service Station sebagai kasir dengan gaji 30 gulden sebulan, sehingga dia sanggup menabung untuk membeli biola. Namun, pekerjaan sebagai kasir dirasakan kurang cocok baginya, sehingga ia pindah pekerjaan dengan gaji tidak tetap sebagai verkoper (penjual) piringan hitam produksi Columbia dan Polydor yang berkantor di Jalan Noordwijk (sekarang Jalan Ir. H. Juanda) Jakarta. Penghasilannya tergantung pada jumlah piringan hitam yang dia jual. Rupanya, pekerjaan ini hanya sebagai batu loncatan ke jenjang karier berikutnya dalam bidang musik.

Selama bekerja sebagai penjual piringan hitam, Ma'ing banyak berkenalan dengan artis pentas, film, musik dan penyanyi, di antaranya Zahirdin, Yahya, Kartolo, dan Roekiah (orangtua Rachmat Kartolo). Pada 1936, Ma'ing memasuki perkumpulan orkes musik Lief Jawa sebagai pemain gitar, saksofon, dan harmonium pompa.

Tahun 1934, Belanda membentuk Nederlands Indische Radio Omroep Maatshappij (NIROM) dan orkes musik Lief Java mendapat kesempatan untuk mengisi acara siaran musik. Tapi Ma'ing mulai menjauhkan diri dari lagu-lagu Barat, kemudian menciptakan lagu-lagu sendiri antara lain "Ali Baba Rumba", "Ohle le di Kotaraja", dan "Ya Aini". Lagu ciptaannya kemudian direkam ke dalam piringan hitam di Singapura. Orkes musiknya punya sebuah lagu pembukaan yang mereka namakan Sweet Jaya Islander. Lagu tersebut tanpa pemberitahuan maupun basa-basi dijadikan lagu pembukaan siaran radio NIROM, sehingga grup musik Ma'ing mengajukan protes, namun protes mereka tidak digubris oleh direktur NIROM.

Pada periode 1936-1937, Ma'ing mulai mempelajari berbagai jenis lagu tradisional dan lagu Barat. Ini terlibat pada beberapa ciptaannya dalam periode tersebut, "My Hula-hula Girl". Kemudian lagu ciptaannya "Bunga Mawar dari Mayangan" dan "Duduk Termenung" dijadikan tema lagu untuk film "Terang Bulan". Awal Perang Dunia II (1940) mulai mempengaruhi kehidupan di Hindia-Belanda (Indonesia). Radio NIROM mulai membatasi acara siaran musiknya, sehingga beberapa orang Indonesia di Betawi mulai membuat radio sendiri dengan nama Vereneging Oostersche Radio Omroep (VORO) berlokasi di Karamat Raya. Antene pemancar mereka buat sendiri dari batang bambu.

Tiap malam Minggu orkes Lief Java mengadakan siaran khusus dengan penyanyi antara lain
Annie Landouw. Ma'ing malah jadi pemain musik sekaligus mengisi acara lawak dengan nama samaran "Paman Lengser" dibantu oleh "Botol Kosong" alias Memet. Karena Ma'ing sangat gemar memainkan berbagai jenis alat musik, suatu waktu dia diberi hadiah sebuah saksofon oleh kawannya yang ternyata menderita penyakit paru-paru. Setelah dokter menjelaskan pada Ma'ing, lalu alat tiup tersebut dimusnahkan. Tapi, mulai saat itu pula penyakit paru-paru mengganggu Ma'ing.

Ketika Ma'ing membentuk organisasi Perikatan Radio Ketimuran (PRK), pihak Belanda memintanya untuk memimpin orkes studio ketimuran yang berlokasi di Bandung (Tegal-Lega). Orkesnya membawakan lagu-lagu Barat. Pada periode ini dia banyak mempelajari bentuk-bentuk lagu Barat, yang digubahnya dan kemudian diterjemahkannya ke dalam nada-nada Indonesia. Sebuah lagu Rusia ciptaan R. Karsov diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda menjadi "Panon Hideung". Sebuah lagu ciptaannya berbahasa Belanda tapi memiliki intonasi Timur yakni lagu "Als de orchideen bloeien". Lagu ini kemudian direkam oleh perusahaan piringan hitam His Master Voice (HMV). Kelak lagu ini diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Bila Anggrek Mulai Berbunga".

Tahun 1940, Ma'ing menikah dengan penyanyi kroncong Bulis binti Empi. Pada Maret 1942, saat Jepang menduduki seluruh Indonesia, Radio NIROM dibubarkan diganti dengan nama Hoso Kanri Kyoku. PRK juga dibubarkan Jepang, dan orkes Lief Java berganti nama Kireina Jawa. Saat itu Ma'ing mulai memasuki periode menciptakan lagu-lagu perjuangan. Mula-mula syair lagunya masih berbentuk puitis yang lembut seperti "Kalau Melati Mekar Setangkai", "Kembang Rampai dari Bali" dan bentuk hiburan ringan, bahkan agak mengarah pada bentuk seriosa.

Pada periode 1943-1944, Ma'ing menciptakan lagu yang mulai mengarah pada lagu-lagu perjuangan, antara lain "Rayuan Pulau Kelapa", "Bisikan Tanah Air", "Gagah Perwira", dan "Indonesia Tanah Pusaka". Kepala bagian propaganda Jepang, Sumitsu, mencurigai lagu-lagu tersebut lalu melaporkannya ke pihak Kenpetai (Polisi Militer Jepang), sehingga Ma'ing sempat diancam oleh Kenpetai. Namun, putra Betawi ini tak gentar. Malah pada 1945 lahir lagu "Selamat Jalan Pahlawan Muda".

Setelah Perang Dunia II, ciptaan Ma'ing terus mengalir, antara lain "Jauh di Mata di Hati Jangan" (1947) dan "Halo-halo Bandung" (1948). Ketika itu Ma'ing dan istrinya pindah ke Bandung karena rumah meraka di Jakarta kena serempet peluru mortir. Ketika berada di Bandung selatan, ayah Ma'ing di Jakarta meninggal. Ma'ing terlambat menerima berita. Ketika dia tiba di Jakarta, ayahnya telah beberapa hari dimakamkan. Kembang-kembang yang menghiasi makam ayahnya dan telah layu, mengilhaminya untuk menciptakan lagu "Gugur Bunga".

Lagu-lagu ciptaan lainnya mengenai masa perjuangan yang bergaya romantis tanpa mengurangi nilai-nilai semangat perjuangan antara lain "Ke Medan Jaya", "Sepasang Mata Bola", "Selendang Sutra", "Melati di Tapal Batas Bekasi", "Saputangan dari Bandung Selatan", "Selamat Datang Pahlawan Muda". Lagu hiburan populer yang (kental) bernafaskan cinta pun sampai-sampai diberi suasana kisah perjuangan kemerdekaan. Misalnya syair lagu "Tinggi Gunung Seribu Janji", dan "Juwita Malam". Lagu-lagu yang khusus mengisahkan kehidupan para pejuang kemerekaan, syairnya dibuat ringan dalam bentuk populer, tidak menggunakan bahasa Indonesia tinggi yang sulit dicerna. Simak saja syair "Oh Kopral Jono" dan "Sersan Mayorku". Lagu-lagu ciptaannya yang berbentuk romantis murni hiburan ringan, walaupun digarap secara populer tapi bentuk syairnya berbobot seriosa. Misalnya lagu "Aryati", "Oh Angin Sampaikan. Tahun 1950 dia masih mencipta lagu "Irian Samba" dan tahun 1957 lagu "Inikah Bahagia" -- suatu lagu yang banyak memancing tandatanya dari para pengamat musik.

Sampai pada lagu ciptaan yang ke 100-an, Ma'ing masih merasa belum puas dan belum bahagia. Malah, lagu ciptaannya yang ke-103 tidak sempat diberi judul dan syair, hingga Ma'ing alias Ismail Marzuki komponis besar Indonesia itu menutup mata selamanya pada 25 Mei 1958.